TOPNEWS62.COM, BOGOR – Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) mengajak mahasiswa di seluruh Indonesia untuk membangun tradisi kritik yang konstruktif, beretika, dan berorientasi pada solusi sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam memperkuat kehidupan demokrasi yang sehat dan berkeadaban.
Ajakan tersebut disampaikan dalam rangkaian kegiatan Next Gen Leaders (NGL) Batch III yang berlangsung di Ma’had Ar-Rohmah Training Center, Bogor, pada 12–14 Juni 2026. Program kaderisasi kepemimpinan tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai daerah sebagai upaya menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, serta kepedulian terhadap persoalan bangsa.
Ketua Umum PP GMH, Rizki Ulfahadi, menegaskan bahwa kritik merupakan salah satu instrumen penting dalam sistem demokrasi. Melalui kritik yang sehat, masyarakat dapat menjalankan fungsi kontrol sosial sekaligus mendorong perbaikan kebijakan dan tata kelola kehidupan berbangsa.
Menurutnya, kritik yang berkualitas tidak hanya berfokus pada mengungkap kelemahan atau kesalahan, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan dan alternatif solusi yang dapat diterapkan untuk kemaslahatan bersama.
“Mahasiswa memiliki tradisi intelektual yang kuat dalam mengawal berbagai isu kebangsaan. Namun kritik yang baik bukan sekadar menyalahkan, melainkan mampu menawarkan solusi dan gagasan yang konstruktif untuk perbaikan,” ujar Rizki.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa selama ini dikenal sebagai agent of change, social control, dan moral force yang memiliki posisi strategis dalam perjalanan bangsa. Karena itu, kemampuan berpikir kritis harus dibarengi dengan tanggung jawab moral, kedewasaan sikap, serta etika dalam menyampaikan pendapat.
Rizki menilai perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah membuka ruang yang semakin luas bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan berupa maraknya penyebaran disinformasi, ujaran kebencian, fitnah, hingga kritik yang kehilangan substansi dan nilai edukatif.
“Media sosial memberikan kebebasan yang besar bagi setiap orang untuk menyampaikan pandangan. Karena itu mahasiswa harus mampu menjadi teladan dengan menghadirkan kritik yang berbasis data, argumentatif, dan tetap menjunjung tinggi etika serta adab dalam berkomunikasi,” katanya.
Menurut Rizki, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Bahkan, keberagaman perspektif dapat menjadi sumber lahirnya berbagai gagasan inovatif yang memperkaya proses pengambilan keputusan. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berubah menjadi ruang saling menjatuhkan yang berpotensi memecah persatuan masyarakat.
“Perbedaan pendapat harus dihargai sebagai bagian dari demokrasi. Yang perlu dijaga adalah objektivitas, sikap saling menghormati, dan komitmen untuk mencari solusi terbaik. Kritik yang disampaikan secara santun dan argumentatif akan lebih mudah diterima serta memberikan dampak yang lebih positif,” jelasnya.
PP GMH memandang mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki tanggung jawab untuk menjadi penyeimbang dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Oleh karena itu, keberanian menyuarakan kebenaran harus diiringi dengan kemampuan menawarkan solusi yang realistis, aplikatif, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
Melalui program Next Gen Leaders Batch III, PP GMH membekali peserta dengan berbagai materi kepemimpinan, wawasan kebangsaan, keterampilan berpikir kritis, serta penguatan nilai-nilai keislaman yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin. Bekal tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya aktif menyampaikan aspirasi, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.
“Indonesia membutuhkan generasi pemimpin yang kritis, berintegritas, dan memiliki semangat kolaborasi. Kami berharap para peserta NGL dapat menjadi contoh dalam menyampaikan kritik yang cerdas, santun, serta berorientasi pada kemajuan bangsa,” pungkas Rizki.
Melalui penguatan budaya kritik yang konstruktif dan beretika, PP GMH optimistis mahasiswa akan terus memainkan peran strategis dalam menciptakan ruang demokrasi yang sehat, produktif, dan berkeadaban, sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.


