TOPNEWS62.COM, Potensi industri perhiasan Indonesia semakin bersinar di pasar dunia. Keunikan desain, sentuhan kearifan lokal, serta penggunaan material berkualitas seperti emas, perak, mutiara, dan batu mulia menjadi daya tarik tersendiri di tengah tren global yang mengapresiasi produk handmade, custom design, dan sustainable jewellery.
Melihat peluang tersebut, Kementerian Perindustrian mempercepat penguatan ekosistem industri perhiasan nasional, khususnya bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM). Salah satu strategi utamanya adalah membuka akses promosi internasional melalui partisipasi dalam Jakarta International Jewellery Fair.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, penguatan industri tidak hanya difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga perluasan pasar ekspor dan penguatan kemitraan antara IKM dan industri besar.
Pemerintah, lanjutnya, terus menghadirkan kebijakan yang mendukung iklim usaha kondusif, termasuk perlindungan Kekayaan Intelektual serta edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya nilai strategis KI dalam industri kreatif.
Sepanjang 2025, Ditjen IKMA telah menjalankan berbagai program, mulai dari e-Smart IKM, pelatihan ekspor, fasilitasi P3DN, hingga bimbingan teknis. Pada 2026, dukungan tersebut diperluas melalui restrukturisasi mesin dan peralatan, serta percepatan implementasi industri 4.0 guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Kontribusi industri perhiasan terhadap devisa negara pun semakin signifikan. Data BPS mencatat, ekspor perhiasan dan barang berharga periode Januari–November 2025 mencapai USD 8,4 miliar—melampaui total ekspor tahun sebelumnya yang sebesar USD 5,5 miliar.
Dalam ajang JIJF 2026, sebanyak 10 IKM perhiasan binaan Kemenperin mendapat fasilitasi booth pameran setelah melalui proses kurasi. Mereka berasal dari berbagai daerah, dengan dominasi produk mutiara khas NTB serta batu mulia dari sejumlah sentra produksi nasional.
Direktur Industri Aneka Reny Meilany mengungkapkan, partisipasi tersebut membuahkan hasil positif dengan total transaksi mencapai Rp463,8 juta selama pameran berlangsung. Angka ini menjadi indikator bahwa kualitas produk IKM perhiasan Indonesia mampu bersaing dan diminati pasar.
Ke depan, pemerintah berharap pameran seperti JIJF tidak hanya menjadi ajang transaksi jangka pendek, tetapi juga membuka peluang kemitraan berkelanjutan antara perajin lokal dengan buyer nasional maupun internasional.
Dengan kolaborasi erat antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha, industri perhiasan nasional diyakini akan terus tumbuh dan semakin kokoh menembus pasar global.


