
TOPNEWS62.COM, BOGOR – Banyak orang mengira bahwa keberhasilan duniawi adalah puncak pencapaian hidup. Keluarga harmonis, usaha maju, harta melimpah seolah menjadi tanda keberkahan dan kebahagiaan sejati. Padahal, tanpa disadari, semua itu bisa menjadi tirai yang menutupi cahaya hidayah dari Allah ﷻ.
Kesuksesan dunia memang menggoda. Rumah megah, kendaraan mewah, dan senyum keluarga di meja makan sering dianggap simbol kebahagiaan. Namun, kebahagiaan sejati tak diukur dari materi, melainkan dari sejauh mana hati terikat dengan Al-Qur’an dan zikir. Allah ﷻ mengingatkan:
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai terhadap kehidupan akhirat." (QS. Ar-Rum [30]: 7)
Ayat ini menyingkap realitas manusia modern: cerdas dalam urusan dunia, namun lalai terhadap akhirat. Mereka mampu merancang bisnis global, tapi gagal menundukkan hati. Mereka bisa membeli waktu orang lain, tapi tak bisa membeli satu detik tambahan dari ajal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika seseorang berhenti mempelajari Al-Qur’an karena merasa hidupnya sudah mapan, di situlah ia mulai kehilangan arah. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan panduan hidup yang menjaga hati tetap tunduk dan jiwa tetap hidup.
Hidup tanpa Al-Qur’an ibarat rumah megah tanpa cahaya kokoh dari luar, namun gelap di dalam. Banyak orang tampak sukses, tapi hatinya kering dan jiwanya gelisah. Allah ﷻ telah memperingatkan:
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha [20]: 124)
Berapa banyak orang kaya yang hidupnya penuh kegelisahan, selalu takut kehilangan? Itulah buah dari berpaling dari wahyu: kelimpahan tanpa ketenangan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Belajar Al-Qur’an bukan hanya untuk yang miskin waktu atau harta, tetapi untuk siapa pun yang ingin menjaga arah hidup. Semakin banyak nikmat yang dimiliki, semakin besar tanggung jawab untuk menuntun diri dengan wahyu.
Allah ﷻ berfirman:
"Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (QS. Al-‘Alaq [96]: 6–7)
Kesombongan paling halus bukanlah pada pakaian atau jabatan, melainkan pada hati yang merasa “sudah cukup tahu.” Padahal, Rasulullah ﷺ yang maksum pun berdoa:
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi)
Jika Nabi yang dijamin surga masih takut hatinya berpaling, bagaimana dengan kita?
Allah ﷻ juga mengingatkan bahwa kemewahan dunia bukanlah tanda kemuliaan:
"Kalau bukan karena manusia itu akan menjadi satu golongan (dalam kekafiran), niscaya Kami jadikan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atap-atap rumah dari perak dan tangga-tangga yang mereka naiki." (QS. Az-Zukhruf [43]: 33)
Artinya, kemewahan hanyalah ujian, bukan ukuran derajat di sisi Allah.
Harta, keluarga, dan karier sejatinya adalah amanah. Tanpa bimbingan wahyu, semua itu bisa berubah menjadi fitnah yang menjerumuskan. Karena itu, siapa pun kita kaya atau sederhana perlu terus dekat dengan Al-Qur’an.
Allah ﷻ menegaskan dalam firman-Nya:
"Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, dia berkata: 'Tuhanku telah memuliakanku.' Tetapi apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata: 'Tuhanku telah menghinaku.' Sekali-kali tidak (demikian)." (QS. Al-Fajr [89]: 15–17)
Kesuksesan dunia bukan tanda kemuliaan, dan kesulitan bukan tanda kehinaan. Semua adalah ujian iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah meninggikan derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Qur’an), dan merendahkan yang lain karenanya." (HR. Muslim)
Maka siapa pun kita pebisnis, pejabat, atau rakyat biasa jadikan Al-Qur’an sebagai teman harian. Bacalah, pahami, dan amalkan. Sebab harta akan sirna, jabatan akan hilang, keluarga pun bisa pergi. Tetapi cahaya Al-Qur’an akan tetap menyinari jiwa hingga akhir hayat.
Dan ketika semua nikmat fana lenyap, hanya mereka yang hidup bersama Al-Qur’an yang akan benar-benar hidup kekal dalam cahaya ridha-Nya.

