Sentuhan Green Economy di Kelas PAUD: Ketika Barang Bekas Disulap Jadi Alat Stimulasi Tumbuh Kembang

Sentuhan Green Economy di Kelas PAUD: Ketika Barang Bekas Disulap Jadi Alat Stimulasi Tumbuh Kembang

TOPNEWS62.COM, JAKARTA – Selasa (13/10/2026) Di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan dan tingginya biaya penyediaan media pembelajaran, sebuah terobosan kreatif hadir dari ranah akademis. Dosen dan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menunjukkan aksi nyata dalam memadukan keberlanjutan lingkungan dengan pendidikan anak usia dini. Lewat program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), mereka menggelar pelatihan pembuatan Alat Peraga Edukatif (APE) berbasis barang bekas di Aula PAUD Anyelir, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Minggu (11/10/2026).

Kegiatan ini mengangkat tema “Pelatihan Pemanfaatan Daur Ulang Untuk Alat Stimulasi Motorik Anak Sebagai Implementasi Green Economy Management”. Fokus utamanya adalah membekali para pendidik anak usia dini dengan wawasan dan keterampilan praktis untuk menyulap limbah rumah tangga menjadi media stimulasi tumbuh kembang yang efektif dan ramah kantong.

MENYIMAK Para peserta dengan antusias menyimak pemaparan materi oleh Wawan Ridwan, dosen UBSI selaku tutor
MENYIMAK Para peserta dengan antusias menyimak pemaparan materi oleh Wawan Ridwan, dosen UBSI selaku tutor

Menyemai Prinsip Green Economy Sejak Dini

Penerapan konsep Green Economy Management (Manajemen Ekonomi Hijau) tidak melulu berbicara tentang industri besar atau investasi energi bersih. Pada tingkat dasar seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), konsep ini diwujudkan secara konkret melalui gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Dalam sambutannya, Slamet Maryoso, S.Pd., MM., yang mewakili tim dosen UBSI, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung masyarakat sekitar. Menurutnya, kegiatan PKM adalah bagian integral dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bertujuan membagikan pengetahuan, teknologi, serta pengalaman langsung kepada masyarakat. Ia berharap keterampilan baru yang dipelajari para guru dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap cara mengajar dan mendidik anak-anak di sekolah.

Praktik Langsung: Tutup Botol hingga Tali Sepatu

Pelatihan yang diketuai oleh Wawan Ridwan, S.Ag., M.Pd. ini diikuti oleh 20 guru PAUD se-Kramat Jati dengan antusiasme tinggi. Dalam sesi materi, Wawan—yang juga bertindak sebagai tutor utama—menjelaskan pentingnya merangsang dua aspek penting dalam tumbuh kembang anak, yaitu motorik kasar (keseimbangan dan koordinasi otot besar) serta motorik halus (koordinasi mata-tangan dan otot kecil).

Para peserta diajak mempraktikkan secara langsung pembuatan alat peraga dari barang-barang bekas yang mudah ditemukan di sekitar kita. Salah satu materi favorit adalah teknik meronce. Menggunakan potongan botol plastik atau sedotan bekas yang dipadu dengan tali sepatu tak terpakai, para guru belajar menciptakan alat permainan sederhana namun efektif untuk melatih fokus dan kecermatan jari jemari anak.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan hidup. Banyak peserta memanfaatkan momen ini untuk berdiskusi langsung mengenai kendala yang mereka hadapi di lapangan. Salah satu peserta, Ibu Wulan, mengutarakan kecemasannya terkait pemanfaatan media digital dan pembuatan konten bahan ajar yang terkadang dirasa rumit.

Menanggapi hal tersebut, Wawan Ridwan memberikan solusi praktis. Tim UBSI telah menyiapkan modul panduan visual yang sistematis. Dengan panduan langkah demi langkah berbasis gambar, para guru dapat dengan mudah mengikuti dan mengaplikasikan panduan tersebut tanpa harus merasa terbebani oleh ketakutan teknis.

Kolaborasi Lintas Generasi dan Sinergi Tim

Kolaborasi Lintas Generasi dan Sinergi Tim DOSEN DAN MAHASISWA Para dosen dan mahasiswa UBSI berfoto bersama
Kolaborasi Lintas Generasi dan Sinergi Tim Dosen & Mahasiswa UBSI berfoto bersama

Suksesnya acara ini tak lepas dari kerja sama solid tim PKM UBSI. Selain Wawan Ridwan dan Slamet Maryoso, tim dosen diperkuat oleh Dr. Yudi, S.E., M.Ak. dan Darkiman Ruminta, S.Pt., M.Si. Kegiatan ini juga memberikan ruang belajar lapangan bagi mahasiswi UBSI, yaitu Ikrom Muzadi dan Shifa Fauziah Rahma, yang terlibat aktif mendampingi para peserta selama praktik berlangsung. Bagi mahasiswa, keterlibatan ini menjadi sarana mengasah kepedulian sosial dan mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan nyata.

Slamet Maryoso mengingatkan bahwa pelatihan ini bertindak sebagai pemantik. Kunci perubahan hakiki tetap berada di tangan para pendidik. Dengan mengaplikasikan ilmu dan ide-ide kreatif yang telah dibagikan, para guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang dinamis, hemat biaya, dan penuh nilai kepedulian lingkungan.

Melalui sinergi ini, UBSI kembali mengukuhkan komitmennya untuk mendorong transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi di tingkat pendidikan dasar—sebuah fondasi utama dalam mencetak generasi penerus bangsa yang kreatif, cerdas, dan berwawasan lingkungan.