AI Didorong Jadi Pendukung Keputusan yang Berdampak Nyata bagi Ekonomi Rakyat

AI Didorong Jadi Pendukung Keputusan yang Berdampak Nyata bagi Ekonomi Rakyat

TOPNEWS62.COM, PARLEMENTARIA, Bogor – Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Amelia Anggraini menegaskan bahwa pemanfaatan artificial intelligence (AI) tidak boleh berhenti sebagai tren teknologi semata. Menurutnya, AI harus diposisikan sebagai alat bantu strategis dalam pengambilan keputusan yang memberikan manfaat langsung bagi ketahanan ekonomi rakyat, terutama dalam sektor pangan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Amelia dalam Focus Group Discussion (FGD) BKSAP DPR RI yang digelar di IPB University, Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/2/2026).

“Sudah saatnya kita menggeser cara pandang terhadap AI. Bukan lagi sekadar teknologi canggih, tetapi sebagai alat bantu keputusan yang benar-benar memperkuat daya tahan ekonomi rakyat,” ujar Amelia, yang juga tergabung dalam Panitia Kerja Artificial Intelligence (Panja AI) BKSAP DPR RI.

Ia menekankan bahwa pemanfaatan AI perlu diarahkan pada kelompok pelaku usaha kecil yang selama ini bekerja dengan margin terbatas dan menghadapi risiko besar akibat perubahan iklim serta meningkatnya biaya produksi.

“Prioritas AI seharusnya diberikan kepada UMKM, petani, nelayan, koperasi, dan pelaku usaha kecil. Mereka inilah yang paling membutuhkan dukungan inovasi dalam pengambilan keputusan, bukan semata-mata digital native yang sudah memiliki akses teknologi,” tegasnya.

Amelia menilai bahwa kelompok digital native umumnya telah memiliki ekosistem, perangkat, dan ruang eksperimen yang memadai. Sebaliknya, pelaku kecil justru membutuhkan sistem pendukung keputusan yang konkret dan aplikatif untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka.

Ia mencontohkan praktik komunitas petani di Indramayu yang secara rutin mencatat curah hujan harian sebagai dasar analisis pola tanam. Dari data sederhana tersebut, para petani mampu menunda masa tanam, menyesuaikan strategi budidaya, hingga mengurangi penggunaan pestisida secara signifikan guna menghindari gagal panen.

“Praktik seperti ini menunjukkan bahwa pengambilan keputusan berbasis data sudah berjalan di tingkat akar rumput. AI seharusnya hadir sebagai pendamping yang mempercepat analisis, menyusun skenario tanam, memberi peringatan dini risiko hama dan cuaca, serta menjembatani kesenjangan literasi data,” jelasnya.

Lebih jauh, Amelia menekankan pentingnya menjadikan pengetahuan lokal sebagai fondasi utama dalam pengembangan AI nasional. Menurutnya, sistem AI yang dibangun tanpa konteks lokal berpotensi menghasilkan rekomendasi yang tidak relevan dan bias.

“AI yang hanya mengandalkan data global mungkin cerdas, tetapi asing dengan realitas kita. Karena itu, pengetahuan lokal harus menjadi input utama, sekaligus dilindungi,” ujarnya.

Politisi Fraksi Partai NasDem tersebut juga mendorong penguatan bank data lokal yang mencakup informasi agroekologi, mikroiklim, varietas tanaman, praktik budidaya, hingga istilah komunitas. Ia menekankan pentingnya tata kelola data yang adil dan berpihak pada masyarakat.

“Perlu dipikirkan skema perlindungan, termasuk melalui HAKI dan mekanisme pembagian manfaat, agar kontribusi komunitas tidak sekadar menjadi bahan baku gratis bagi platform teknologi,” tegas Amelia.

Ia pun mengingatkan agar pengembangan AI di Indonesia tetap berorientasi pada kedaulatan pengetahuan nasional.

“Jangan sampai AI justru lebih memahami Indonesia daripada orang Indonesia sendiri. AI harus belajar dari masyarakat, dan manfaatnya harus kembali kepada rakyat,” pungkas Anggota DPR RI tersebut.